Thursday, 29 May 2008

catatan pinggir (Kali) : "mau ngalor ato ngidul??"

Aktifitas kita sehari-hari kadang membuat kita lupa akan makna ato esensi dari tujuan diri dan kedirian kita, istilah dari pejabat negara ini dulu di era orde baru menyebutnya "seperti kehilangan content". Saya ingat dulu sewaktu pertama kali diterima sebagai calon pegawai negeri sipil (cpns), kami semua dikumpulkan di ruangan untuk mendengarkan ceramah dan kata sambutan dari petinggi instansi ini; ada satu kalimat menarik yang masih terngiang di telinga saya sampai saat ini pada nasehat seorang "petinggi" wanita yang kurang lebih beliau menyatakan demikian,"ingatlah bahwa pekerjaan kalian akan terasa berat jika kalian menganggapnya hanya suatu pekerjaaan rutinitas "biasa", tapi jika pekerjaan itu dimaknai sebagai ibadah maka segala sesuatunya akan terasa ringan dan hasilnya insyaallah baik". Jika sese0rang mampu memaknai setiap aktifitas dan pekerjaan sehari-hari dengan nilai-nilai spiritual, maka orang tersebut memiliki kecerdasan esq (emotional, spiritual quotient) tinggi, itu kata Ary Ginanjar Agustian.
Jadi ketika kita mengetik surat, menyapu lantai, membuat peta, ngukur tanah,ikutan panitia B, ngimel orang pusat, mendengarkan dan melaksanakan perintah BOS, apel pagi, jadi photografer acara kantor, ngerapihin arsip peta, etc merupakan ibadah???. Jawabnya iya, kalo kita sudah mampu memaknainya demikian, dan sudah barang tentu harus ikhlas dan ridho. Tapi untuk mencapai taraf demikian diperlukan suatu kecerdasan tersendiri yaitu kecerdasan esq. Memang domain emotional apalagi spiritual jarang tersentuh oleh sistem pendidikan, pembinaan dan perekrutan pegawai kita (kalo yang ini menurut saya - red).
Solusinya gimana?!?, tuh kan ujung-ujungnya selalu ada pertanyaan?; Oke, katakan saja kondisi yang ada sekarang pegawai kita kurang motivasi, tanggung jawab kurang (ato emang ga dikasih responsible/tupoksi dari atasannya), paradigmanya cenderung bertendensi kurang baiklah; saya utarakan dengan "malu-malu" dua opsi solusinya :
Pertama : opsi ini saya sebut sebagai opsi ngalor, cobalah ada baiknya untuk menggugah dan membangun motivasi kita adakan suatu training penggugah motivasi, mudah-mudahan ini bisa meningkatkan kinerja, kita bisa bekerja sama dengan Training ESQnya Ary Ginanjar Agustian ato Manajemen Qolbunya AA GYM misalnya.
Kedua : opsi ini saya sebut sebagai opsi ngalor, sebaiknya dalam perekrutan pegawai, mata ujinya ditambahkan dengan materi agama misalnya, dan sistem psikotesnya bisa aja diperbaharui atao diperbagus. Mudah-mudan dengan ini kita bisa mendapatkan pegawai dengan kecerdasan esq yang "lumayan".
Jadi itulah solusinya setelah kita ngobrol ngalor-ngidul :D....